Selamat Datang

SELAMAT DATANG DI BLOG BANYUROTO ORGANIK SEMOGA BERMANFAAT

Kamis, 26 Februari 2015

Gerakan Banyuroto Go Organik



GARIS IDIOLOGI
Peningkatan nilai moralitas dan spiritual keagamaan menjadi dasar dalam membangun masyarakat dan manusia yang religius, beretika, dan berbudaya, sehingga dapat dijadikan landasan untukmeningkatkan dan memberdayakan masyarakat pertanian khususnya dan masyarakat luas pada umumnya termasuk dalam kaitannya dengan kinerja lembaga terkait dan birokrasi pemerintahan.

KELEMBAGAAN
Keanggotaan lembaga bersifat terbuka, tidak diskriminatif karena faktor agama, suku, dan ras. Masyarakat memiliki cita-cita dan komitmen yang kuat untuk selalu meningkatkan dan membangun nasib dan masa depan yang lebih baik, dan karenanya lembaga ini berusaha mengakomodasikan dan mengkoordinasikan cita-cita tersebut. Sehingga dalam kebersamaan antara masyarakat pertanian, masyarakat luas, lembaga ini dan lembaga pemerintah terkait, berusaha memenuhi hak dan kewajiban yang seimbang dan proporsional dalam menuju harapan dan cita-cita bersama, dengan memegang teguh prinsip keadilan dan non diskriminasi yang menjadi ruh dan etika internal lembaga ini.

DASAR
Kelembagaan ini memiliki keyakinan yang kuat bahwa Pancasila merupakan ideologi, falsafah dan pandangan hidup yang tepat, terutama sebagai nilai-nilai dasar, jati diri dan warisan bangsa. Dalam perkembangan dinamika global yang sarat dengan nilai-nilai universal serta kecenderungan dan realitas baru, Pancasila tetap memiliki relevansi dan kekuatan untuk menjawab berbagai tantangan masa kini dan masa depan.

IDEALISME
(Pemberdayaan, Kebersamaan, Kesejahteraan)
Selama ini masyarakat petani selalu menjadi pihak yang dikalahkan dan dirugikan. Ini bisa terjadi karena keterbatasan masyarakat petani dalam penguasaan pengetahuan tentang tehnik-tehnik pertanian yang efektif dan efisien, keterbatasan informasi tentang kemajuan tehnologi pertanian, masalah keterbatasan permodalan, pasar yang selalu mempermainkan harga jual, hasil panen dan keterbatasan sumber daya manusia dalam mengelola dan memanagemen bidang pertanian secara baik dan benar. Hal-hal tersebut diataslah yang menjadi kendala dan hambatan utama dalam upaya peningkatan status kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat petani. Dengan adanya lembaga ini diharapkan langkah-langkah kecil menuju pemberdayaan mulai diayunkan, dengan harapan upaya pemberdayaan bisa berjalan dengan semestinya dan pada akhirnya bidang pertanian menjadi salah satu pilihan lapangan pekerjaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan menjadi ujung tombak perekonomian bangsa dan negara.
Kebersamaan yang hendak dibangun dan diperjuangkan oleh lembaga ini adalah kebersamaan yang mendorong partisipasi pelaku, masyarakat petani dan masyarakat luas pada umumnya, lembaga pemerintahan terkait, orang-orang yang simpati dan berkompeten di bidang pertanian, sehingga diharapkan terbentuk kinerja yang efektif, efisien dan solit dalam proses pembentukan masyarakat petani yang berswasembada dan berswadaya serta dapat menunjang dan membentuk sumber daya manusia di bidang pertanian yang bermoral dan beretika. Kedudukan lembaga dalam hal ini sebagai motivator dalam mendampingi dan membina masyarakat pertanian dalam meraih harapan menuju masyarakat pertanian yang berswasembada dan berswadaya.
Kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan sosial sama pentingnya. Dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk meraih tingkat kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat luas dan masyarakat pertanian, dalam kemitraan ini berusaha diwujudkan secara bersama masyarakat yang beradab dan sejahtera, sehingga pada akhirnya diharapkan setiap warga masyarakat memiliki kenyamanan dan kemudahan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi prioritas utama karena apapun alasannya bidang pertanian merupakan salah satu tulang punggung stabilitas perekonomian Indonesia. Dan sampai saat ini justru bidang pertanian belum bisa menjadi tonggak perekonomian nasional. Dalam kerangka pikir seperti itu, keberadaan kelembagaan ini diharapkan mampu menjembatani proses-proses perbaikan sistem pertanian secara baik.

AGENDA
Sejak dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai negara agraris, sehingga tulang punggung utama perkonomian Indonesia seharusnya tergantung di bidang pertanian. Tetapi melihat kecenderungan yang ada, justru sebaliknya pengembangan bidang pertanian kurang diperhatikan. Hal ini nampak dengan adanya usaha-usaha ekstensifikasi pertanian yang terhenti, bahkan banyak lahan-lahan produktif pertanian yang dialihgunakan untuk pengembangan bidang lain. Usaha-usaha intensifikasi pertanian pun menjadi tidak terarah, seperti : pemanfaatan dan pemakaian pupuk anorganik yang tidak seimbang dan membabi buta, pemakaian obat-obatan pertanian ( insektisida, pestisida, dll ) yang kurang / tidak terarah. Hal-hal tersebut membuktikan bahwa terjadi kepincangan dalam usaha membangun bidang pertanian. Keberadaan lembaga ini diharapkan dapat menjembatani dan mengembalikan fungsi-fungsi ekstensifikasi dan intensifikasi yang selaras dan seimbang, sehingga setiap upaya-upaya pengembangan dan peningkatan hasil produksi pertanian selalu memperhatikan keselarasan dan keseimbangan alam.
Tehnologi pertanian yang maju dan modern bukanlah tehnologi yang memakai produk-produk pabrik secara berlebihan dan tehnologi yang selalu memakai dan memanfaatkan bahan-bahan kimiawi yang dapat merusak siklus dan kesuburan tanah. Tehnologi pertanian yang maju dan modern selalu mengutamakan keselarasan dan keseimbangan alam, dengan meminimalisasi produk-produk kimia, sehingga dapat dicapai hasil produksi yang maksimal tanpa merusak dan mempegaruhi siklus alam, kesuburan tanah dan diharapkan dapat menjaga proses-proses produktifitas pertanian, keselarasan dan keseimbangan alam yang saling menunjang secara abadi. Harapan akhir dapat tercapai sistem pertanian yang menggunakan tehnologi modern yang tepat dan terpadu.
Lembaga ini mempunyai fungsi dan tugas pembinaan serta penjelasan kepada masyarakat petani juga memberi pembelajaran tehnik-tehnik pertanian dengan sistem organik dan tehnologi mikrobiologi yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi tanpa merusak keseimbangan alam.
Hambatan klasik usaha peningkatan di bidang pertanian adalah modal usaha, sistem pengelolaan dan pasar. Ketiga hal tersebut merupakan lingkaran setan yang merusak tatanan dan sistem pertanian. Untuk memutus matarantai lingkaran dan menghilangkan hambatan yang ada akan ditempuh langkah – langkah awal sebagai berikut :
1. Membentuk kelompok – kelompok tani untuk mempermudah dalam managerial, pembinaan dan mempertinggi saling komunikasi dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
2. Membentuk koperasi petani yang diharapkan dapat mengantisipasi masalah permodalan dan penjualan hasil pertanian.
3. Diadakan upaya-upaya membantu mental dan moral masyarakat petani bahwa apa yang akan dikerjakan dan sedang dikerjakan mereka sudah tepat, sehingga diharapkan untuk masa mendatang bidang pertanian menjadi bidang yang menyediakan lapangan pekerjaan yang dapat menghidupi dan mensejahterakan keluarga mereka.
4. Membentuk dan menciptakan produk-produk pasca panen dari hasil pertanian dan limbah pertanian, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan nilai jual hasil pertanian.
5. Mendorong petani untuk membuat dan memproduksi pupuk organik cair sebagai upaya menekan beban beaya pengolahan pertanian dan dalam rangka upaya perbaikan struktur tanah pertanian.

Peningkatan hasil pertanian dalam upaya pemberdayaan yang tepat, bermoral dan beretika dalam lingkup kebersamaan antara masyarakat, pemerintah, lembaga maupun perorangan / organisasi, untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial.

MISI
1. Mengembalikan sistem petanian organik sebagai satu-satunya pilihan untuk menstabilkan dan meningkatkan hasil pertanian secara kualitatif dan kuantitatif, sehingga pada akhirnya bidang pertanian dapat memenuhi kebutuhan akan kesejahteraan dan kenyamanan hidup.
2. Pemberdayaan dan pembinaan masyarakat pertanian melalui kelompok-kelompok tani dan koperasi petani, sehingga diharapkan mereka pada akhirnya mampu memanagerial dan mengelola sendiri sistem pertanian, baik dari sisi permodalan, pengelolaan, penjualan maupun peningkatan nilai jual hasil produksi pertanian.
3. Membangun moral dan mental masyarakat pertanian untuk selalu memahami bahwa bidang yang mereka kelola merupakan salah satu tonggak perekonomian negara.
4. Menciptakan lingkungan usaha yang sehat bagi masyarakat pertanian,, sehingga petani akan menjadi mitra perekonomian yang dihargai keberadaannya.
5. Menciptakan dan membentuk usaha bidang pertanian yang tepat, sehingga usaha di bidang pertanian sudah dapat dijadikan sumber mata pencaharian yang menguntungkan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru


Rabu, 25 Februari 2015

Kotoran Manusia Sebagai Bahan Penyubur Tanah



Pemanfaatan feses sebagai pupuk bahkan sudah dimulai sejak tahun 1908 di Cina. Saat itu, Dewan Kota Shanghai menjual hak mengumpulkan feses kepada seorang pengusaha Cina seharga 31.000 keping emas. Feses seberat 78.000 ton dikumpulkan dengan prosedur khusus, untuk dibawa ke pedesaan dan dijual sebagai pupuk kepada petani. Pemanfaatan feses juga terjadi di Jepang pada masa itu. Jumlah total yang diaplikasikan di seluruh tanah pertanian Jepang bahkan mencapai 23.850.295 ton, atau rata-rata 1,75 ton per 4.000 meter persegi lahan.

Praktik ini juga dilakukan sejak dulu di Vietnam Utara. Petani biasa memanfaatkan feses segar untuk memupuk sawah mereka. Praktik ini memang kurang sehat sebab berisiko menularkan penyakit. Karena itu, tahun 1956 Dinas Kesehatan setempat memulai kampanye penggunaan “jamban kering dengan dua penampungan”. Pemakaian jamban ini dimaksudkan agar bakteri patogen yang ada dalam feses mati sebelum diaplikasikan sebagai pupuk. Kampanye ini diikuti program pendidikan kesehatan yang dilaksanakan terus menerus dalam jangka panjang.

Sumber Daya Terbatas dan Sulitnya Akses
Pemanfaatan feses sebagai bahan penyubur tanah (lihat Kotak 1) adalah solusi efektif bagi daerah bersumber daya terbatas dan sulit memperoleh input pertanian. Alasan ini juga yang mendorong masyarakat di Lembah Lahaul, Pegunungan Himalaya, India, untuk membuat kompos dari kotoran manusia. Selain lokasi desa yang sangat terpencil, iklim yang tak bersahabat juga membuat petani di sana mengembangkan cara budi daya yang unik.
Kotak 1. Menyempurnakan Daur Makan di Alam
Feses yang sudah menjadi kompos atau humus memberikan beberapa efek positif ketika diaplikasikan ke tanah. Ia adalah bahan pelembab tanah yang aman. Pupuk ini mampu meningkatkan kemampuan tanah mengikat air dan meningkatkan kesehatan tanaman lewat kandungan unsur hara yang dimilikinya. Pupuk feses sedikit berbeda dibanding kompos. Ia berwarna lebih terang dan partikelnya lebih besar. Pupuk feces yang sudah jadi tidak akan menarik datangnya lalat dan menyebabkan polusi karena tidak berbau.

Ketidaksuburan tanah merupakan hambatan besar bagi pertanian berkelanjutan di daerah ini. Lapisan humusnya hilang dan unsur hara banyak tercuci akibat tingginya curah salju, salju longsor, tanah longsor, dan erosi. Rumput dan tanaman penutup tanah sulit tumbuh sehingga tidak mungkin memelihara ternak untuk menghasilkan pupuk kandang dalam jumlah cukup bagi pertanian. Tak ada jalan lain, petani harus menggunakan feses sebagai pupuk penyubur tanaman. Sebelum pemanfaatan ini memasyarakat, masalah terbesar yang dihadapi adalah bagaimana menghilangkan rasa jijik.
Kini, tantangannya justru penggunaan jamban modern yang semakin populer. Jamban modern diperkenalkan karena jamban tradisional dianggap kurang sehat. Akibatnya petani kini kesulitan mendapat bahan baku sehingga jumlah petani yang mengaplikasikan pupuk feses makin berkurang.
Feses Sebagai Komoditas
Melintas benua, praktik ini juga dilakukan di sejumlah negara di Afrika. Tahun 1988 di Desa Mbebe, Distrik Ileje, Tanzania, dilaksanakan Ileje Food Crop Production, program hasil kerja sama pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Tujuan utamanya adalah mengajarkan metode pertanian efisien sumber daya kepada petani. Pemakaian pupuk organik diperkenalkan guna mendongkrak produksi serealia yang merosot dan dipersalahkan sebagai penyebab tingginya gizi buruk dan tingkat kematian di bawah 5 tahun.
Petani yang memiliki ternak membuat pupuk kandang, sementara yang tidak memiliki menggunakan pupuk hijau seperti orok-orok dan kompos. Salah satu petani lantas mencoba menggunakan feses sebagai pupuk. Ia menguras jambannya yang sudah berumur 3 tahun dan menggunakannya untuk memupuk tanaman jagung. Hasilnya ternyata baik. Petani mencatat kenaikan panen yang signifikan dari penggunaan feses sebagai pupuk.
Sejumlah petani yang melihat hasil ini, akhirnya tertarik untuk mencoba. Tahun berikutnya, jumlah petani yang menggunakan feses meningkat. Bahkan petani mulai membeli isi jamban lama sebesar 800—1.000 shilling Tanzania (sekitar Rp 10.000) per lubang. Feses pun menjadi sebuah komoditas berharga.
Pupuk Feses di Negara Barat
Tak hanya di negara Asia dan Afrika, pemanfaatan feses sebagai pupuk ternyata juga dilakukan di negara barat. Penduduk di sana menyebutnya sebagai jamban kompos. Konstruksi jamban yang khusus, memungkinkan dilakukannya “panen feses” setelah beberapa tahun. Model jamban kompos yang dipakai di Swedia disebut “clivus”, sementara di Norwegia dinamai “komidi putar”.
Sejumlah aplikasi lapangan ini tentunya menjadi bukti nyata bahwa feses memang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan penyubur tanah. Praktik ini ibarat “menyempurnakan” daur makan di alam. Alam menghasilkan bahan pangan, kita memakannya, dan kotoran kita kembalikan ke alam. Selain itu, faktor murah dan mudah didapat bisa dipertimbangkan sebagai keunggulan pupuk feses dibanding pupuk kimia.
Tantangan terbesar dari pemanfaatan feses sebagai pupuk adalah faktor kesehatan. Karena itu, rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai teknis penanganan pupuk feses yang aman bisa dijadikan bahan pembelajaran. Selain itu harus dipastikan bahwa bakteri patogen di dalam feses sudah mati. Sejumlah faktor yang bisa mematikan bakteri patogen bisa dilihat di Kotak 2.
Kotak 2. Panduan WHO Mengenai Penanganan Pupuk Feses yang Aman
Jika feses dan bahan organik lain diproses menjadi kompos pada suhu ruang, hasil akhir proses tersebut tidak berbau dan baik dipakai sebagai bahan penyubur tanah. Untuk meminimalkan risiko kesehatan dari penggunaan feses, WHO mengeluarkan sejumlah rekomendasi.
Jika sulit mencapai suhu tinggi pada penyimpanan/penimbunan, WHO merekomendasikan waktu simpan yang lebih lama. Penyimpanan selama satu setengah sampai dua tahun dengan suhu 2—20°C akan menghilangkan bakteri penyebab penyakit dan mengurangi virus serta protozoa parasit sampai di bawah tingkat berisiko.
WHO juga merekomendasikan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kesehatan. Ini mencakup pemakaian pelindung pribadi seperti sepatu bot, sarung tangan, masker, dan tidak menggunakan peralatan yang dipakai menangani feses untuk keperluan lain. Selain itu, anak-anak harus dijauhkan dari tempat penyimpanan, pemrosesan, atau lokasi penggunaan pupuk.
Pupuk feses sebaiknya diberikan dengan cara “aplikasi dekat tanah”. Maksudnya, pupuk dimasukkan ke dalam tanah dan kemudian ditimbuni tanah sampai tertutup rapat.
Terakhir WHO menyebutkan bahwa kebersihan rumah dan pribadi sangat penting. Selain menerapkan teknologi yang tepat, masyarakat juga perlu melakukan praktik kebersihan yang baik. Jika rekomendasi ini diikuti maka secara umum risiko bagi masyarakat yan mengumpulkan dan mengunakan feses (maupun yan mengonsumsi produk hasil pemupukan) akan dikurangi sampai tingkat aman.


Teknik Pengolahan Feses Menjadi Pupuk
Secara garis besar, ada tiga teknik pengolahan feses yang memberikan hasil kurang lebih sama.
1. Pengeringan
Feses dipisahkan dari urine dan disimpan dalam penampungan sampai mengering. Urine juga bisa dipakai sebagai pupuk cair. Namun sebelum dipakai, urine harus disimpan dalam wadah tertutup selama kurang lebih enam bulan untuk mematikan bakteri patogen yang dikandungnya.
2. Pengomposan
Feses (dan urine) disimpan dalam penampungan dan dicampur dengan sampah rumah tangga, sampah kebun, atau bahan organik lain. Campuran ini akan mengalami pembusukan dan terurai. Setelah 6—8 bulan biasanya sudah bisa dipanen sebagai kompos.
3. Pengomposan dengan tanah
Feses (dan urine) disimpan dalam penampungan yang sudah diisi tanah terlebih dulu. Setiap ada tambahan feses segar, tumpukan baru ini ditimbun dengan tanah biasanya juga ditambahkan abu dapur. Setelah 3—4 bulan biasanya seluruh patogen pada feses sudah mati dan feses siap dipakai sebagai pupuk.


*) artikel dituliskan kembali oleh Shintia D. Arwida.
Santaram S. Oinam
G.B. Pant Institute of Himalayan Environment & Development, North-East
Unit, Vivek Vihar, Itanagar 791 113, Arunachal Pradesh, India. E-mail: oinamsantaram1@rediffmail.com
Patrick M. Mwalukisa
Kepala Departemen Pertanian Organisasi Pembangunan Perdesaan Ileje,
PO BOX 160 Ileje, Tanzania
Referensi:
-Drangert, J.O., 1998. Urine blindness and the use of nutrients from
human excreta in urban agriculture. GeoJournal, 45: 201-208.
-Jonsson, H., A.R. Stinzing, B. Vinneras, dan E. Salomon, 2004.
Guidelines on the Use of Urine and faeces in Crop Production.
EcoSanRes., 1-35.
-Kuniyal, J.C., S.C.R. Vishvakarma, dan G.S. Singh, 2004.
Changing crop biodiversity and resource use effi ciency of traditional
versus introduced crops in the cold desert of the northwestern
Indian Himalaya: a case of Lahaul valley.
Biodiversity and Conservation 13 (7): 1271-1304.
-Mashauri, D.A., M.A Senzia, 2002. Reuse of nutrients from ecological
sanitation toilets as a source of fertiliser.
(www.2.gtz.de/ecosan/download/CESMA2002-mashuari.pdf)
-Oinam, S.S., Y.S. Rawat, R.S. Khoiyangbam, K. Gajananda,
J.C. Kuniyal, dan S.C.R. Vishvakarma, 2005.
Land use and land cover changes in Jahlma watershed of the
Lahaul valley, cold desert region of the northwestern Himalaya, India.
Journal of Mountain Science, 2 (2): 129-136.
-Winbald U & Simpson-Hebert M (editors): Ecological sanitation-revised
and enlarged edition. SEI, Stockholm Sweden, 2004.
-Esrey, S.A, Andersson, I., Hillers, A., Sawyer, R. 2001.
Closing The Loop: Ecological sanitation for food security.
Publication on Water Resources No.18.
Swedish International Development Cooperation Agency.
-King, F.H.. 1911. Farmers of Forty Century.
Democrat Printing CO. Madison

Base camp petani organik Banyuroto

under construction

Pupuk Kompos

under construction